SEPUTAR SHALAT TARAWIH

Standar

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Bulan ramadhan merupakan bulan yang suci, bulan yang di mulyakan oleh Allah SWT, bulan yang penuh maghfirah (ampunan) dan berkah-Nya, bulan dimana pintu syurga di buka lebar-lebar dan pintu neraka di tutup rapat-rapat. syaiton-syaiton di belenggu, bulan dimana jiwa menjadi tenang dan hati menjadi tentram.

Oleh sebab itulah Rasul Saw dalam bulan Ramadhan mengajak umatnya agar meningkatkan ibadah, termasuk didalamnya beliau menggalakkan sholat di malam bulan Ramadhan, yang di namakan dengan sholat tarawih. Di dalam shalat tarawih ini, rasul SAW  hanya memberikan batasan dalamjumlah raka’atnya. Hal tersebut tentunya memberikan kebebasan, kelonggaran, kepada umatnya untuk menentukan sendiri, apakah ia mampu melaksanakan dengan 11 rakaat atau 23 rakaat atau bahkan dengan 39 rakaat.

Maka dengan demikian ini adalah merupakan rahmat bagi umatnya, Allah berfirman dalam Al-Qur’an(Q.S Al-Baqarah:286):

Artinya: Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau hukum Kami jika Kami lupa atau Kami tersalah. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau bebankan kepada Kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau pikulkan kepada Kami apa yang tak sanggup Kami memikulnya. beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong Kami, Maka tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir.”

(Q.S Al-Baqarah:286)

            Lebih jelasnya mengenai shalat sunat tarawih ini kami sebagai pemateri akan membahas mas’alah yang berhubungan dengan shalat tarawih yang akan di jelaskan dalam bab selanjutnya.

  1. B.     Rumusan Masalah

1)      Apa devinisi dari sholat tarawih?

2)      Bagaimana Praktik Shalat Tarawih pada Masa Nabi dan Sahabat?

3)      Berapa jumlah Rakaat dari pada shalat tarawih?

4)      Bagaimana dengan pelaksanaan sholat tarawih?

5)      Kapan sholat tarawih dilaksanakan? dan

6)      Bagaimana pandangan madzhab tentang shalat tarawih? 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Definisi Tarawih

Kata at-tarawih adalah bentuk plural dari kata tarwihah yang berarti duduk istirahat setelah empat kali takbir, kemudian setiap empat kali takbir dinamakan at-tarawih sebagai majaz (kiasan) atas istirahat yang mengiringinya. Aisyah ra. mengatakan: Rasulullah SAW shalat empat rakaat di malam hari, kemudian istirahat sebentar, lalu shalat lagi hingga lama, sampai-sampai aku merasa kasihan dengannya dan berkata, “Demi ayah dan ibu sebagai tebusanmu, wahai Rasulullah. Allah telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang. “Beliau menjawab, “Bukankah aku seorang hamba yang pandai bersyukur.”[1]

Tarawih juga disebut qiyam Ramadhan. Adapun pelaksanaannya dilakukan setelah shalat isya dan shalat-shalat sunnahnya hingga akhir malam. Nabi SAW sangat menganjurkannya. Abu Muslim bin Abdurrahman berkata: Rasulullah SAW menganjurkan qiyam Ramadhan tanpa memerintahkannya dengan tegas sebagai kewajiban (‘azimah), lalu bersabda,

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًاغُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa melaksanakan qiyam Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan (ihtisaban), maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu. [2]

Yang dimaksud dengan qiyam Ramadhan adalah menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat, dan hal itu juga dapat diperoleh dengan berbagai macam amal ketaatan secara mutlak.

B.     Praktik Shalat Tarawih di Masa Nabi dan Sahabat

Nabi SAW melakukan shalat tarawih di sebagian malam Ramadhan, lalu meninggalkannya karena khawatir dianggap oleh umatnya sebagai shalat wajib.

Aisyah ra. berkata: “Nabi SAW shalat di masjid kemudian shalatlah orang-orang mengikuti beliau, kemudian pada hari berikutnya beliau shalat di masjid dan semakin banyak orang yang mengikutinya. Pada hari ketiga orang-orang sudah berkumpul menunggu Nabi SAW, tetapi beliau tidak keluar. Pagi harinya beliau berkata,

قَدْ رَأَيْتُ الَّذِي صَنَعْتُمْ وَلَمْ يَمْنَعْنِي مِنَ الْخُرُوْجِ إِلَيْكُمْ إِلَّا أَنِّي خَشِيْتُ أَنْ تُفْرَضَ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ فيِ رَمَضَانَ

 

“Aku telah melihat apa yang kalian lakukan. Sebenarnya tidak ada yang menghalangiku untuk tidak melakukan shalat bersama kalian, hanya saja aku takut kalau ia diwajibkan atas kalian selama Ramadhan.

Adapun orang yang pertama kali mengumpulkan orang-orang muslim untuk melakukan shalat tarawih dengan berjama’ah dengan hitungan dua puluh raka’at adalah Khalifah Umar bin Khattab ra. dan para shahabat Nabi pada waktu itu menyetujuinya. Dan pekerjaan tersebut berlangsung pada masa pemerintahan Khalifah Usman dan Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. Dalam hal ini Rasulullah saw. telah  bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَ سُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

“Wajib atas kamu sekalian mengikuti sunnahku dan sunnah dari AlKhulafa’ur Rasyidin”.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. telah menambah jumlah raka’atnya dan menjadikannya 36 (tiga puluh enam raka’at). Tambahan ini beliau maksudkan untuk menyamakan dengan keutamaan dan pahala penduduk Makkah. Karena penduduk Makkah setiap kali selesai melakukan shalat empat raka’at, mereka melakukan thawaf di Ka’bah. Jadi Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. melakukan shalat empat raka’at sebagai ganti dari satu kali thawaf agar dapat memperoleh pahala dan ganjaran.

Pada masa kekhalifahan Umar, shalat tarawih berjamaah menjadi kebiasaan rutin, dan hal itu disetujui oleh mayoritas sahabat. Abdurrahman bin Abdul Qari bercerita: Aku pergi ke masjid bersama Umar bin Khathab pada suatu malam Ramadhan. Di sana kami jumpai orang-orang tercerai-berai, di mana masing-masing orang shalat sendiri-sendiri dan ada juga seseorang yang shalat, kemudian beberapa orang menjadi makmumnya. Umar pun berkata, “Menurutku jauh lebih ideal jika orang-orang ini berkumpul menunjuk satu imam yang ahli Qur’an. Kemudian ia bertekad kuat untuk mengumpulkan orang-orang di belakang Ubay bin Ka’ab. Kemudian pada malam berikutnya aku pergi bersamanya dan orang-orang menjalankan shalat (tarawih) dengan berjamaah pada ahli Al-Qur’an mereka. Umar pun berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. Apa (shalat) yang dilakukan saat orang-orang tidur (maksudnya di penghujung malam) lebih baik daripada apa yang dilakukan saat mereka masih bangun. Sebab orang-orang biasa melaksanakan di awal malam.

Bid’ah tarawih berjamaah di belakang seorang yang ahli membaca Al-Qur’an merupakan inovasi yang bagus, yaitu menghidupkan sunnah Nabi SAW, mengingat hal itu juga pernah dilakukan Rasulullah SAW pada masa hidupnya, namun kemudian beliau tinggalkan karena khawatir dianggap fardhu. Yang dimaksud bid’ah dalam perkataan Umar di atas bukanlah bid’ah dalam masalah ibadah, sebab bid’ah dalam ibadah adalah sesat.[3]

C.    Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Adapun orang yang melakukan shalat tarawih 8 (delapan) raka’at dengan witir 3 (tiga) raka’at, adalah mengikuti hadits yang diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah yang berbunyi sebagai berikut:

ما كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّىاللَّهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَزِيْدُ فِى رَمَضَــــانَ وَلاَ فِى غَــيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشَرَةَ رَكْعَةً ، يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْـاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّى اَرْبَعًا فَلاَ تَسْــاَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَ طُوْلِهِنَّ ثُمَّ يُصَــلِّى ثَلاَثًا ، فَقُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَتَنَامُ قَبْلَ اَنْ تُوْتِرَ ؟ فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ إِنَّ عَيْنَيَّ تَنَامُ وَلاَ يَـــــنَامُ قَلْبِى . مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Tiadalah Rasulullah saw. menambah pada bulan Ramadlan dan tidak pula pada bulan lainnya atas sebelas raka’at . Beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat empat raka’at dan jangan anda bertanya tentang kebagusan dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at. Kemudian aku (A’isyah) berkata: “Wahai Rasulullah, adakah tuan tidur sebelum shalat witir ?” Kemudian beliau bersabda: “Wahai A’isyah, sesungguhnya kedua mataku tidur, sedang hatiku tidak tidur !

Syekh Muhammad bin ‘Allan dalam kitab “Daliilul Faalihiin” jilid III halaman 659 menerangkan bahwa hadits di atas adalah hadits tentang shalat witir, karena shalat witir itu paling banyak hanya sebelas raka’at, tidak boleh lebih. Hal itu terlihat dari ucapan A’isyah bahwa Nabi saw. tidak menambah shalat, baik pada bulan Ramadlan atau lainnya melebihi sebelas raka’at. Sedang shalat tarawih atau “qiyamu Ramadlan” hanya ada pada bulan Ramadlan saja.

Adapun ucapan A’isyah “beliau shalat empat raka’at dan anda jangan bertanya tentang kebagusan dan panjangnya”, tidaklah berarti bahwa beliau melakukan shalat empat raka’at dengan satu kali salam. Sebab dalam hadits yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar ra. Nabi bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خِفْتَ الصُّبْحَ فَاَوْتِرْ بِوَاحِدَةٍ .

“Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at, maka jika kamu khawatir akan shubuh, shalatlah witir satu raka’at”.

Dalam hadits lain yang disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim, Ibnu Umar juga berkata :

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى مِنَ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى وَ يُوْتِرُ بِرَكْعَةٍ .

“Adalah Nabi saw. melakukan shalat dari waktu malam dua raka’at dua raka’at, dan melakukan witir dengan satu rakaat”.

Pada masa Rasulullah saw. dan masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar As Shiddiq, shalat tarawih itu dilaksanakan pada waktu tengah malam, dan namanya bukan shalat tarawih, melainkan “qiyaamu Ramadlaan” (Shalat pada malam bulan Ramadlan). Karena nama “tarawih” itu diambil dari arti “istirahat” yang dilakukan setelah melakukan shalat empat raka’at. Disamping itu perlu kita ketahui, bahwa pelaksanaan shalat tarawih itu di Masjid al Haram di Kota Makkah sekarang ini adalah 20 raka’at dengan dua raka’at satu salam.

KH. Ali Ma’sum, dalam bukunya yang berjudul “Hujjatu Ahlis Sunnah Wal Jama’ah” halaman 24 dan 40 menerangkan tentang shalat “Shalat Tarawih” yang artinya sebagai berikut:

  • Shalat tarawih itu, meskipun dalam hal ini terdapat perbedaan, namun sepatutnya tidak boleh ada saling mengingkari terhadap kepentingannya. Shalat tarawih itu menurut kami, orang-orang yang bermadzhab Syafi’i, bahkan dalam madzhab Ahlus Sunnah Wal Jama’ah adalah duapuluh raka’at. Shalat tarawih ini hukumnya adalah sunnat mu’akkad bagi setiap laki-laki dan wanita, menurut madzhab Hanafi, Syafi’i, Hambali dan Maliki.
  • Shalat tarawih ini disunnatkan untuk dilakukan dengan berjama’ah bagi setiap muslim, menurut madzhab Syafi’i dan Hambali. Madzhab Maliki berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya mandub (derajatnya di bawah sunnat), sedang madzhab Hanafi berpendapat bahwa berjama’ah dalam shalat tarawih itu hukumnya sunnat kifayah bagi penduduk kampung, sehingga apabila ada sebagian dari penduduk kampung tersebut telah melaksanakan dengan berja ma’ah, maka lainnya gugur dari tuntutan.
  • Para imam madzhab telah menetapkan kesunnatan shalat tarawih berdasarkan perbuatan Nabi Muhammad saw. Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits sebagai berikut:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيَ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثٌ مُتَفَرِّقَةٌ لَيْلَةُ الثَّالِثِ وَالْخَامِسِ وَالسّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ ، وَصَلَّى فِى الْمَسْجِدِ وَصَلَّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا ، وَكَانَ يُصَلِّى بِهِمْ ثَمَانَ رَكَعَاتٍ أَيْ بِأَرْبَعِ تَسْلِيْمَاتٍ كَمَا سَيَأْتِى وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيَهَا فِى بُيُوْتِــــهِمْ أَيْ حَتَّى تَتِــــمَّ عِشْرِيْنَ رَكْعَةً لِمَا يَأْتِى ، فَكَانَ يُسْمَعُ لَهُمْ أَزِيْزٌ كَأَزِيْزِ النَّحْلِ .

“Adalah Nabi saw. keluar pada waktu tengah malam pada malam-malam Ramadlan, yaitu pada tiga malam yang  terpisah: malam tanggal 23, 25 dan 27. Beliau shalat di masjid dan orang-orang  shalat seperti shalat beliau di masjid. Beliau shalat dengan mereka  delapan raka’at, artinya dengan empat kali salam sebagaimana keterangan mendatang, dan mereka menyempurnakan shalat tersebut di rumah-rumah mereka, artinya sehingga shalat tersebut sempurna 20 raka’at menurut keterangan mendatang. Dari mereka itu terdengar suara seperti suara lebah”.

Dari hadits ini jelaslah bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensunnatkan bagi ummat Islam shalat tarawih dan berjama’ah pada shalat tarawih tersebut, akan tetapi beliau tidak melakukan shalat dengan para sahabat sebanyak 20 raka’at sebagaimana amalan yang berlaku sejak zaman shahabat dan orang-orang sesudah mereka sampai sekarang.

Adapun dalil shalat Tarawih dua puluh rakaat adalah hadist riwayat Malik dari Yazid bin Ruman, ia berkata, “Orang-orang pada masa Umar melakukan shalat qiyam Ramadhan sebanyak dua puluh tiga rakaat.” Rahasianya adalah bahwa shalat rawatib jumlahnya sepuluh rakaat, lantas dilipatkan pada malam Ramadhan karena bulan tersebut termasuk waktu untuk giat beribadah. Dalam kitab asy-Syafi’i, Abu Bakar bin abdul Aziz meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw. melakukan shalat pada bulan Ramadhan sebanyak dua puluh rakaat. Khalifah Umar sendiri ketika menyuruh Ubai bin Ka’ab untuk memimpin shalat qiyam juga menganjurkan agar shalat dua puluh rakaat. Diriwayatkan dari Ali bahwa ia pernah menyuruh seseorang untuk menjadi imam shalat qiyam Ramadhan dengan dua puluh rakaat. Bilangan dua puluh rakaat ini sudah menjadi ijma’. Ubai bin Ka’ab sendiri memimpin shalat qiyam Ramadhan sebanyak dua puluh rakaat ditambah witir tiga rakaat.[4]

Mengenai jumlah rakaat shalat tarawih, para ulama berbeda pendapat. Sebagian mereka mengatakan bahwa shalat tarawih itu sunnahnya dua puluh rakaat karena mengikuti kaum Muhajirin dan Anshar. Pendapat lain mengakatakan shalat tarawih itu tiga puluh enam rakaat selain shalat syafa’ dan witir. Jumlah ini dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, karena mengikuti pendapat penduduk Madinah yang terdahulu. Sebagian ulama berkata,”Sayyidah Aisyah berkata,’Rasulullah saw. tidak pernah menambah shalat qiyam lebih dari tiga belas rakaat, baik pada bulan Ramadhan maupun pada bulan-bulan lainnya.’” Ibnu Taimiyyah berkata,”Semua pendapat di atas baik dan bagus.” Sebelumnya Imam Ahmad juga sudah mengatakan hal itu, bahkan ia menambahkan bahwa shalat qiyam bulan Ramadhan itu tidak ditentukan rakaatnya karena Rasul sendiri tidak menentukannya. Imam asy-Syaukani berkata, hadist-hadist yang ada menujukkan masyru’nya shalat qiyam pada bulan Ramadhan, baik dengan berjamaah maupun sendiri-sendiri. Adapun shalat tarawih dengan jumlah tertentu dan pengkhususannya dengan bacaan tertentu tidaklah termasuk sunnah. [5]

D.    Pelaksanaan Shalat Tarawih

Shalat Tarawih lebih utama dilaksanakan di masjid secara berjamaah, mengikuti tindakan Rasulullah SAW yang telah diterangkan di muka. Adapun tidak keluarnya beliau pada hari ketiga lebih dikarenakan kekhawatiran jika hal itu dianggap wajib oleh umatnya. Pendapat inilah yang penulis anggap bagus, ini juga yang dikatakan oleh mayoritas ulama.

Sedangkan menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama mazhab Maliki dan sebagian mazhab Syafi’i serta mazhab Hanafi, pelaksanaan shalat tarawih di rumah lebih afdhal jika tidak membuat masjid menjadi sepi. Mereka berdasar pada keumuman hadis Zaid bin Tsabit, bahwa Nabi SAW besabda, “Shalat seseorang di rumah lebih afdhal daripada shalatnya di masjidku ini kecuali shalat maktubah (shalat wajib lima waktu).

Argumentasi ini dapat dibantah bahwa keumuman hadis di atas telah dikhususkan oleh perbuatan Rasulullah SAW dalam melaksanakan shalat tarawih. Hal ini berarti menjalankan dan mengikuti hadis amali dan hadis qauli Rasulullah SAW.

Dalam pelaksanaan shalat tarawih, yang paling afdhal adalah membaca al-Qur’an secara keseluruhan sepanjang shalat tarawih jika memang mampu. Jika tidak, maka cukup membaca semampunya secara tartil dan khusyu’ sambil berdoa memohon taufiq pertolongan dan hidayah.[6]

E.     Waktu Shalat tarawih

Waktu shalat tarawih mulai dari setelah shalat ba’diyyah Isya sampai terbit fajar kedua. Shalat tarawih tidak sah jika dilakukan sebelum shalat Isya. Jika ada orang setelah shalat Isya lantas melakukan shalat tarawih, namun kemudian ia ingat bahwa ketika melakukan shalat Isya ia dalam keadaan tidak punya wudhu, maka ia harus mengulang shalat Isya dan shalat tarawihnya. Shalat tarawih juga ikut diulang karena shalat itu termasuk sunnah yang dilakukan setelah shalat fardhu, jadi tidak sah jika dilakukan sebelum shalat fardhu.

Jika sampai waktu shalat tarawih habis dan belum sempat shalat, maka tidak diqadha. Shalat tarawih boleh dilakukan setelah shalat Isya langsung sebelum shalat ba’diyyahnya. Akan tetapi afdhalnya shalat tarawih dilakukan setelah shalat ba’diyyah Isya.[7]

F.     Shalat Tarawih Menurut Madzhab

Imam Malik dalam kitab “Al Muwaththa” meriwayatkan dari Yazid bin Rauman katanya: “Adalah orang-orang pada zaman Khalifah Umar bin Khattab ra. melakukan shalat dengan 23 raka’at. Dan Imam Al Baihaqi telah mengumpulkan kedua riwayat tersebut dengan  menyebutkan bahwa mereka melakukan witir tiga raka’at. Dan para ulama’ telah menghitung apa yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab sebagai ijma’.

Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali berpendapat: “Disunnatkan melakukan salam pada akhir setiap dua raka’at. Sehingga jika ada orang yang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, dan dia duduk pada permulaan setiap dua raka’at, maka hukumnya sah tetapi makruh. Dan jika tidak duduk pada permulaan setiap dua raka’at maka dalam hal ini ada perbedaan pendapat dari para imam madzhab”.

Adapun madzhab Syafi’i berpendapat: “Wajib melakukan salam pada setiap dua raka’at. Maka jika orang melakukan shalat tarawih 20 raka’at dengan satu salam, hukumnya tidak sah; baik dia duduk atau tidak pada permulaan setiap dua raka’at”. Jadi menurut para ulama’ Syafi’iyyah, shalat tarawih itu harus dilakukan dua raka’at dua raka’at dan salam pada permulaan setiap dua raka’at.

Adapun ulama’ madzhab Hanafi berpendapat: “Jika seseorang melakukan shalat empat raka’at dengan satu salam, maka empat raka’at tersebut adalah sebagai ganti dari dua raka’at menurut kesepakatan mereka. Adapun jika seseorang melakukan shalat lebih dari empat raka’at dengan satu salam, maka ke absahannya diperselisihkan. Ada yang berpendapat sebagai ganti dari raka’at yang genap dari shalat tarawih, dan ada yang berpendapat tidak sah”.

Para ulama’ dari madzhab Hambali berpendapat bahwa shalat seperti tersebut sah tetapi makruh dan dihitung duapuluh raka’at. Sedang para ulama madzhab Maliki berpendapat:Shalat yang demikian itu sah dan dihitung duapuluh raka’at. Dan orang yang melakukan shalat demikian itu adalah orang yang meninggalkan kesunnatan tasyahhud dan kesunnatan salam pada setiap dua raka’at; dan yang demikian itu adalah makruh”. Rasulullah saw. bersabda:

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمْ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِــــــدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى . رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ عَنْ عَبْدِ اللّهِ ابْنِ عُمَرَ .

“Shalat malam itu dua raka’at, dua raka’at. Maka jika salah seorang dari kamu sekalian khawatir akan shubuh, maka dia shalat satu raka’at yang menjadi witir baginya dari shalat yang telah dia lakukan”.


[1] HR. Al-Baihaqi (II/497) tanpa menyebut shalat empat rakaat.

[2] Maktabah Syamilah, Shahihul Bukhari Juz 1, 74.

[3] Abd. Aziz M. Azzam dan Abd. Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2010), 326

[4] Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani, 2010), 228.

[5] Ibid., 229.

[6] Abd. Aziz M. Azzam dan Abd. Wahhab Sayyed Hawwas, Fiqh Ibadah, 328.

[7] Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu Jilid 2, 230.

About yulianti

Yulianti adalah nama yang simpel. Dia hanya seorang yang lemah dan haus akan dreams nya. berangkat dari background yang tak mendukung, tetapi mempunyai sejuta harapan dalam mimpinya...Acha acha Fighting..............

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s