BERSEDEKAH DENGAN TELINGA

Standar
Prof. Dr. H. Moh. Ali Aziz, M.Ag.
Guru Besar pada Fakultas Dakwah
IAIN Sunan Ampel Surabaya

 Dalam perjalanan menuju acara khitanan massal (25/9), saya melewati sebuah  kampung sepi di Jombang. Di desa itulah, tokoh pembaru Islam di Indonesia, Prof. Dr Nurkholis Majid, atau lebih dikenal dengan panggilan Cak Nur, dilahirkan. Madrasah Ibtidaiyah di tepi jalan yang dirintis oleh ayahnya menjadi pengingat bagi siapapun yang memasuki desa itu. Saat itu, tiba-tiba saya teringat pribadi Cak Nur dalam setiap seminar atau pengajian.

Beberapa kali saya berkesempatan mengikuti seminar dimana ia menjadi salah satu narasumber. Ketika narasumber lain sedang menyampaikan makalah, ia mengikutinya dengan serius. Sesekali mencatat hal-hal yang dianggap penting. Ia tidak berbicara dengan orang lain atau menunjukkan muka jenuh mendengarkan, sekalipun peserta sudah gaduh dan teriak-teriak karena makalah yang dipaparkan tidak menarik dan tidak logis. Pada saat makan siang, Cak Nur masih sekali lagi menjabat tangan pemakalah itu dan berkata, “Apa yang Anda sampaikan tadi sangat menarik.” Saya yakin, banyak hal yang tidak menarik dalam makalah itu, tapi Cak Nur melupakan semuanya dan mengapresiasi satu atau dua poin yang baik saja.

Sejak itu, saya belajar mengikuti jejaknya, sekalipun seringkali gagal: tidak sabar mendengarkan pembicaraan orang yang tidak logis, lebih-lebih tidak jelas arahnya. Saya sering cepat berkesimpulan, “Tidak ada yang baru dari ceramah ini.” Kemudian, saya merogoh handphone di saku untuk bermain SMS. Jebol juga pertahanan saya. Apalagi,  ketika badan lagi lelah. Saya sangat sadar, itu etika tercela, tapi saya masih berat melawannya.  Ternyata, menjadi pendengar yang terpuji jauh lebih sulit daripada menjadi pembicara yang baik. Ia membutuhkan enerji besar dan super sabar untuk melawan egoisme.  Tulisan ini saya buat, semata-mata untuk memberi motivasi diri sendiri untuk menjadi pendengar yang terbaik.

Ada banyak kiat bagaimana menjadi pendengar yang terhormat. Pertama, selama proses mendengar, belajarlah untuk mencari ide pokok atau tema sentral dari isi pidato atau obrolan orang. Kedua,  cobalah untuk memfokuskan diri pada isi pidato atau obrolan, bukan pada bagaimana cara penyampaiannya. Ketiga,  jangan terlalu cepat menarik kesimpulan dengan memalingkan perhatian atau memotong obrolan orang.

Jika Anda menjadi guru, Anda harus belajar seni berbicara yang baik. Tapi, jangan lupa, Anda juga harus belajar bagaimana menjadi pendengar yang baik untuk semua peserta didik. Termasuk mendengar pertanyaan mereka yang tidak fokus, tidak bisa difaham dan tidak sopan dalam menyampaikannya. Ketika pulang di rumah, Anda harus belajar lagi menjadi pendengar yang baik untuk istri dan anak-anak. Keluarga Anda dijamin tidak akan harmonis,  jika Anda hanya pandai berbicara di depan anak dan istri, sekalipun dengan kutipan ayat Al-Qur’an dan hadis,  dan tidak belajar menjadi pendengar yang baik. Mereka tidak hanya butuh dipenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan, tapi juga butuh didengar dan dihargai.

Mengapa Allah SWT menciptakan manusia dengan dua telinga dan hanya satu mulut? Bisa jadi karena Allah mengetahui tabiat manusia yang rata-rata merasa berat mendengarkan orang lain. Dengan satu mulut saja, dunia sudah ramai gosip seperti ini. Apa jadinya, jika manusia memiliki dua mulut. Jika dikaitkan dengan perut,  telah banyak orang menderita dalam kemiskinan akibat keserakahan satu atau dua orang. Apa jadinya nasib umat manusia, jika ada orang serakah dengan dua mulut.

Jika Anda telah berhasil menunjukkan sikap mau mendengarkan orang, maka  selanjutnya Anda harus belajar mendengar dengan hati. Jika Anda ingin memberi hadiah atau sedekah bernilai kepada  seseorang: bawahan, pimpinan, istri, suami, saudara, dan anak-anak  Anda,  maka hadiahkan kepada mereka sikap Anda yang mendengarkan dengan telinga terbuka lebar, hati dan antusiasme. Anda telah melecehkan seseorang, dan amat menyakitinya,  jika Anda memalingkan muka di depan orang yang sedang serius berbicara kepada Anda.

Seorang bapak marah karena nasahet untuk anaknya hanya masuk di telinga kanan dan keluar melalui telinga kiri. Tak ada pengaruh sama sekali. Ketika sedih bercampur jengkel itu, tetangganya mengatakan, “Itu lumayan pak.  Nasahat saya sama sekali tidak bisa masuk ke telinga anak saya. Baru di daun telinga sudah terpental keluar.”

Berakhlaklah seperti Allah Yang Maha (Mau) Mendengar (as-samii’) kepada semua manusia, sekalipun mulut orang itu berbau busuk karena dustanya,  bermuka hitam karena kemunafikannya, dan tidak fokus pandangan mata karena kebiasaan khianatnya. Tirulah Nabi SAW yang selalu menghadapkan muka dan menunjukkan antusiasme kepada orang yang sedang berbicara dengannya. Berdasar ketauladan nabi, maka orang yang mengangkat telpon atau membuka SMS ketika orang lain sedang berbicara denganya, bukanlah muslim yang baik, apalagi dilakukan ketika sedang bertamu di rumah orang.  Allah SWT berfirman, “…sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba- hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS Az Zumar 17, 18:) Dalam Al Kitab (Injil) disebutkan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!.” (Matius 11:15).

Ayat diatas menunjukkan secara tersirat bahwa tidak semua yang Anda dengar dari orang itu baik dan benar, tapi tetap dengarkan, lalu pilihlah yang baik dan benar untuk diikuti.

Les Giblin (2009) menulis buku Skill With People. Salah satu bab di dalamnya adalah Cara Terampil Mendengarkan Orang. Menurutnya, semakin Anda mendengarkan, semakin tampak Anda orang pandai,  semakin disukai dan dihargai, serta semakin pandai sebagai pembicara. Pendengar yang baik selalu membiarkan seseorang  mendengarkan “pembicara fovorit” nya, yaitu dirinya sendiri. Orang lebih suka mendengar bicaranya sendiri seribu kali lipat daripada mendengarkan orang lain.

Ada lima petunjuk untuk menjadi pendengar yang baik.  Pertama, tataplah orang yang sedang berbicara. Siapapun yang layak didengar, layak pula ditatap. Kedua, condongkan badan ke arah pembicara dan dengarkan penuh perhatian. Tunjukkan seolah-olah Anda tidak mau kelewatan satu katapun. Ketiga, ajukan pertanyaan. Hal itu menunjukkan bahwa Anda sangat memperhatikannya. Mengajukan pertanyaan adalah bentuk sanjungan yang tertinggi. Keempat, ikutilah topik pembicaraan, dan jangan memotong atau menyela. Kuatkan kesabaran untuk menahan diri dari keinginan pindah ke topik yang lain. Kelima, gunakan kata-kata pembicara dengan “Anda” atau “Perkataan Anda”. Jika Anda menggunakan kata “saya” atau “milik saya”, Anda telah memindahkan fokus dari pembicara ke diri Anda. Itu adalah berbicara bukan mendengarkan.

Anda tentu sudah sering mendengar sabda Nabi SAW berikut ini. “Setiap persendian manusia harus bersedekah setiap hari selama matahari masih terbit. Mendamaikan dua orang yang bersengketa adalah sedekah; membantu orang untuk mengangkutkan barangnya di atas kendaraannya juga sedekah; ucapan yang baik juga sedekah, setiap langkah untuk melakukan shalat juga sedekah, dan menyingkirkan gangguan yang ada di tengah jalan juga sedekah.” (HR Bukhari Muslim dari Abu Hurairah r.a).

Bersyukurlah, mulut Anda sudah bersedekah. Demikian juga tangan dan kaki Anda. Sekarang, gilirannya telinga Anda. Ia harus banyak bersedekah dengan mendengarkan dengan baik dan menyenangkan untuk orang yang sedang berbicara dengan Anda. “Seseorang di antara kalian tidaklah disebut orang beriman, kecuali jika ia menyintai orang lain seperti menyintai dirinya sendiri.” kata Nabi SAW. Jika Anda merasa diwongke (dihargai) oleh orang yang mau mendengarkan obrolan Anda, maka Anda juga harus memerlakukan pembicara dengan perlakuan yang sama.

Semakin hari negara kita semakin kebanjiran orang yang pandai berbicara, bahkan tidak malu berbicara panjang lebar di luar bidangnya. Tapi, semakin langka ditemukan orang yang pandai menghargai dan mendengarkan orang. Bagi Anda yang muslim, bersyukurlah Allah telah mengajarkan untuk mengusap telinga setiap hari ketika berwudlu. Berdoalah ketika mengusap organ tubuh yang tipis di bagian kanan dan kiri kepala Anda itu, agar keduanya lebih banyak bersedekah daripada kemarin dan hari ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s